Setengah Sayap
By : Rizuki
-FAR-
“Xavi, tunggu aku!”
Dengan segera aku menghentikan
langkah kakiku. Padahal tiga meter dari tempatku berdiri, pintu kelasku, kelas 3-7,
sudah terlihat. Sedikit enggan aku menolehkan kepalaku ke belakang. Benar saja.
Ternyata memang Clista yang memanggilku. Kulihat dia sedikit berlari kecil
menghampiriku.
“Curang kamu. Padahal tadi kita kan
satu bus. Kamu jalan apa lari sih?” cerocosnya, begitu dia sudah berada di
sebelahku.
“Ya lari lah. Jelas-jelas tadi aku
jalan, gimana sih kamu?” sahutku sambil meneruskan langkah kakiku yang sempat
tertunda. Ingin rasanya aku menjitak kepala si cewek mungil di sampingku ini,
saking aku gemesnya melihat tingkah laku dia, yang terkadang bisa membuat
ubun-ubunku mendidih.
“Hehe, peace, Xav. Cuma bercanda kok,” ujarnya, sambil mengacungkan kedua
jemari tangan kanannya yang membentuk simbol ‘victory’ di depan wajahnya.
“Iya iya. Aku tahu kok,” sahutku.
Tanpa terasa kami sudah sampai di depan kelas. Segera kami memasuki kelas dan
memilih tempat duduk. Maklum saja, sistem tempat duduk di kelasku ini, siapa
yang berangkatnya pagi, maka dia bebas memilih tempat duduk. Aku memilih untuk
duduk di meja paling depan di barisan paling kanan, atau tepat di depan meja
Clista.
Kuamati keadaan kelas yang masih
sepi. Ternyata baru empat orang, termasuk aku, yang sudah berangkat. Sementara
teman-temanku yang lainnya sih, biasanya berangkat agak siangan. Terutama si
Daniel tuh, yang aku juluki si Raja Terlambat. Karena hampir setiap hari dia
selalu berangkat terlambat. Padahal dia sudah tingkat tiga, tapi belum juga
hilang kebiasaan buruknya itu.
Karena masih ada dua puluh menit
sebelum bel masuk berbunyi, akhirnya aku putuskan untuk search gambar Meme Comics Indonesia di google.
BRUK
Kualihkan pandanganku sejenak pada
bangku sebelahku yang baru saja terisi dengan sebuah tas berwarna cokelat hitam.
Ternyata Colin yang baru saja meletakkan tas punggung berwarna cokelat hitam
itu.
“Ada PR gak, Xav?” tanyanya sambil
mengeluarkan sebuat netbook dari dalam tasnya.
“Gak ada kayaknya loh,” jawabku,
tanpa mengalihkan perhatianku dari gambar-gambar Meme Comics di hp.
“Bagus,” balasnya sambil
menjentikkan jari tangannya. Dan kelihatannya dia sudah sibuk dengan kegiatan browsing-nya.
TAP
“Selamat pagi,” sapa Stephanie yang
baru saja masuk kelas.
“Selamat pagi,” balas teman-temanku,
terkecuali aku. Ketahuilah, aku tidak suka berinteraksi dengan dia. Ini semua
gara-gara dia yang mempunyai rasa padaku. Memang itu kedengarannya kejam, tapi
daripada menimbulkan gosip yang berlarut-larut, lebih baik aku menjaga jarak
dengannya.
Meskipun sudah menjaga jarak dengan
Stephanie, tetap saja aku terkena gosip. Beberapa hari ini, aku digosipkan
berpacaran dengan Clista. Ini semua gara-gara Steven, yang dengan seenaknya
mengambil kesimpulan, hanya gara-gara aku yang kadang-kadang memboncengkan
Clista ketika pulang sekolah. Kurasa tidak masalah kalau aku mengantarkan
Clista sampai rumahnya, toh rumahnya memang searah denganku. Untung saja, yang
tahu tentang gosip ini hanya beberapa orang saja. Dan kuharap gosip ini tidak
menyebar terlalu luas. Semoga.
TEET TEET TEET
Entah sudah berapa lama aku melamun,
bahkan aku sampai melupakan gambar-gambar Meme
Comics yang ingin aku download.
Sampai-sampai aku tidak menyadari kalau bel masuk sudah berbunyi. Segera aku
mematikan hp dan mengeluarkan buku pelajaran dari dalam tas. Jam pertama adalah
pelajaran Ilmu Kebumian.
Tak berapa lama, Bu Zeverina
memasuki kelas. Setelah memberi salam, beliau langsung menyuruh kami untuk
membentuk kelompok. Satu kelompok empat orang dan terdiri dari dua meja,
depan-belakang. Itu artinya aku sekelompok dengan Clista dan Maria, dan juga
Colin tentunya.
Kami mendapat tugas untuk mencari
perbedaan antara desa dan kota. Termasuk pula di dalamnya, ciri-ciri fisik dan
budaya masyarakat desa dan kota, di samping karakteristik desa dan kota pastinya.
TOK TOK
Terdengar pintu diketuk. Kutolehkan
kepalaku ke arah pintu untuk melihat siapa yang datang.
“Permisi. Selamat pagi,” ucap orang
itu, yang berdiri di depan pintu dengan wajah innocent-nya. Yap, benar. Itu memang Daniel yang baru berangkat.
Beruntung, Bu Zaverine orangnya tidak terlalu galak, jadi selamatlah dirimu,
Dan.
“Silakan masuk,” perintah Bu
Zaverine.
Setelah mendapat izin, Daniel lalu
masuk ke dalam kelas dan menuju satu-satunya tempat duduk yang masih kosong.
DEG
Perasaan apa ini? Aku barusan salah
lihat kan? Barusan aku melihat ada yang berbeda dari tatapan Clista pada
Daniel. Ah, mungkin hanya perasaanku saja. Tidak lebih.
“Hei, ini bagaimana? Apa cari aja di
internet?”
Pertanyaan Maria berhasil membuatku
kembali ke alam sadar. Tanpa aku sadari Colin menyenggol siku tangan kananku
dengan keras.
“Apaan sih?” tanyaku setengah
berbisik.
Bukannya menjawab pertanyaanku,
Colin malah menyodorkan netbook-nya ke hadapanku. “Nih, kamu diberi tugas buat
nyari materi di internet. Sementara aku akan baca materi di buku,” jelasnya
padaku, disertai dengan cengiran khasnya.
“Dasar,” gerutuku. Sedikit enggan,
aku mulai browsing di internet.
Daripada browsing beginian, mending
aku browsing yang lain aja deh.
“Hei, browsing yang bener napa sih! Malah browsing yang gak jelas begitu. Sini biar aku yang cari.”
Dengan kasar, Clista mengalihkan
netbook Colin, yang semula menghadap ke arahku, menjadi menghadap ke arahnya.
Kulihat jemari mungilnya dengan lincah menari di atas keyboard netbook. Hal itu
berbanding terbalik dengan raut mukanya yang terlihat tidak bersemangat. ‘Ada
apa denganmu, Clist?’ tanyaku dalam hati.
Setelah menunggu beberapa menit,
akhirnya Clista berhasil menemukan materi yang kami butuhkan, tentunya dengan
bantuan dari Maria juga. Dengan telaten, Clista menyalin materi dari internet
dan buku ke kertas tugas.
Akhirnya sekitar empat puluh lima
menit kemudian, tugas kami selesai juga. Setelah dikoreksi ulang oleh Maria,
tugas kami lalu dikumpulkan oleh Colin. Hehe, kalau aku sekelompok dengan
mereka bertiga, aku selalu beruntung. Ya iyalah, secara yang bertugas adalah
mereka bertiga, bukan aku. Paling tugasku cuma mengganggu mereka, hehe...
DEG
Kenapa lagi ini? Kenapa perasaanku
menjadi tidak enak seperti ini? Segera aku mengedarkan pandanganku ke
sekeliling. Semuanya baik-baik saj― Tunggu. Clista. Kenapa sebenarnya ni anak?
Perasaan tadi pas berangkat sekolah dia baik-baik saja deh.
“Clist,” panggilku, sepelan mungkin.
“Eh, ada apa Xav?” tanyanya setengah
kaget. Sepertinya dia habis melamun.
“Hmm itu, kamu lagi ada masalah apa?
Kelihatannya kamu gak mood banget,” Uh, ini bukan aku banget. Seenaknya saja
tanya soal privacy orang.
Kulihat dia tersenyum simpul. “Gak
ada kok. Aku sudah biasa dapet masalah seperti ini. Jadi jangan khawatir. Ah
iya, terima kasih karena telah mengkhawatirkanku, Xav.”
Tanpa aku sadari, aku ikut
tersenyum. Entah mengapa saat melihat Clista tersenyum, membuat hatiku terasa lebih
plong. “Yap, sama-sama,”
‘Kuharap
aku akan selalu melihat senyumanmu itu, Clist,’
harapku dalam hati.
***
TEET TEET TEET
Akhirnya jam terakhir selesai juga. Aku lalu
meregangkan otot tubuhku yang terasa sedikit kaku. Setelah ini, aku ingin
bermain Pockie Ninja sebentar di netbook Colin. Pak Jiménez, selaku guru
pelajaran Agama, sudah keluar kelas. Ok,
this time for party. Yeha!
Di tengah-tengah aku memainkan Pockie Ninja, kulirik
Clista di belakangku yang juga sedang asyik main netbook. “Clist, pulang jam
berapa?” tanyaku spontan.
“Eh?” Dia kemudian melihat jam tangannya. “Satu
jam-an lagi ya. Tanggung nih download-nya,”
jawabnya.
“Ok,” balasku sambil mulai fokus kembali pada
netbook Colin. Sebentar lagi aku bakalan naik level nih...
“Xav, gantian donk.”
Heh, kenapa mesti ada gangguan sih? Padahal Colin
aja sudah ikhlas netbooknya aku pinjam. Tapi, kenapa nih anak satu datang
mengganggu sih?
“Pake laptop kamu sendiri napa, Dan? Tanggung nih
mainnya,” ucapku, tanpa mengurangi konsentrasiku bermain Pockie Ninja.
“Baterai laptopku habis, Xav. Aku gak bawa charger,”
ujarnya.
Sedikit enggan aku menatap wajahnya, setelah
sebelumnya aku mem-pause Pockie
Ninja. “Emang kamu mau ngapain sih Dan?”
“Ah, pokoknya ada deh. Cuma sebentar kok,” pintanya
lagi.
Setelah menghela nafas panjang, aku lalu menyerahkan
netbook Colin pada Daniel. Iseng aku mengintip apa yang Daniel lakukan.
Ternyata dia mau facebook-an toh. Tunggu dulu.
APA?
Si Daniel buka facebook-nya Clista? Yang bener aja?
“Gak salah tuh, Dan? Aha! Jangan-jangan kamu suka
sama Clist― Hmmp... Hmmp...”
Apa-apaan sih ni anak? Main bekep segala. Memangnya
kenapa kalau Clista tahu? Bukannya malah bagus ya? Sekuat tenaga aku berusaha
untuk melepaskan bekapan Daniel. Setelah hampir satu menit Daniel membekapku,
akhirnya dia mau untuk melepaskan bekapannya dari mulutku. Itupun setelah dia
mendapat tatapan tajam dari Clista. Oh, Clist, kau adalah penyelamatku.
BUG
Dengan kasar aku meninju lengan kanan Daniel. Kurasa
itu sebanding dengan perlakuannya padaku tadi.
“Aduh, sakit, Xav.” gerutunya.
Segera saja aku pelototi dia. “Itu sebanding dengan
aku yang kesulitan bernafas sewaktu kamu bekep tadi, Dan. Lagian kalau kamu
suka, tinggal bilang aja ama anaknya. Gak usah sembunyi-sembunyi gitu,”
Entah mengapa setelah kalimat-kalimat itu keluar
dari mulutku, hatiku rasanya sakit. Seolah-olah ada seribu pisau yang
mengiris-iris hatiku menjadi irisan super tipis. Ok, ini memang terlalu
hiperbola, tapi memang itulah kenyataannya. Mungkinkah aku cemburu?
BUG
Sekarang giliran lengan kiriku yang mendapat tinju
dari Daniel.
“Balas dendam nih ceritanya?” tantangku, sambil
memberikan tatapan tajam padanya.
“Bukan begitu, Xav. Sebenarnya aku juga ingin jujur
pada dia. Tapi, aku tidak punya keberanian untuk itu. Selain itu, kau juga
pasti tahu, kalau dia menyukai orang lain bukan? Kalau tidak salah namanya
Farvel, temannya sewaktu masih SMP dulu. Aku takut, kalau dia akan menolak
perasaanku.” jelas Daniel luas.
Aku tidak pernah tahu, ternyata Daniel mempunyai
sisi lemah juga. Aku kira hidupnya selalu tanpa beban. Tetapi, ternyata jauh di
dalam hatinya yang paling dalam, dia mempunyai rasa takut yang berkepanjangan.
PUK
“Semangat Dan. Percayalah kalau kau pasti bisa
mendapatkan dia,” ucapku sambil merangkul bahunya.
“Terima kasih, Xav,” ucapnya sambil balas merangkul
bahuku. Kami lalu sama-sama tertawa kecil, sebelum aku tersadarkan oleh
sesuatu. Segera aku menengok ke belakang. Benar saja. Ternyata Clista sudah
merapikan netbook-nya.
“Pulang sekarang, Clist?” tanyaku untuk memastikan.
Dan Clista hanya menganggukkan kepalanya sebagai
jawaban, sebelum sosok mungilnya menghilang di balik pintu kelas.
“Ok, Dan. Aku pulang duluan ya. Sampai jumpa,”
pamitku pada Daniel. Tergesa-gesa aku memasukkan peralatan menulisku ke dalam
tas, sebelum aku mulai berlari untuk menyusul Clista.
“Clist, tunggu!” seruku, membuat beberapa anak kelas
lainnya menoleh ke arahku. Dan aku hanya bisa nyengir saja ke arah mereka.
Tanpa mempedulikan anak-anak kelas lain, aku terus berlari mengejar Clista,
yang entah ini hanya perasaanku saja, atau memang kenyataan, jalannya Clista
cepat sekali!
Akhirnya aku berhasil juga mensejajarkan langkahku
dengannya. Jujur saja, aku suka posisi ini. Maksudku jalan bersebelahan dengan
Clista. Memang, kalau diperhatikan tinggi badan kami terpaut lumayan jauh, tapi
menurutku justru itulah yang ideal.
“Aku nanti nunggu bisnya di halte sebelah kanan.
Kamu di halte sebelah kiri aja ya?” saranku, saat kami telah melewati pintu
gerbang.
Hening. Tidak ada jawaban.
“Baiklah, aku akan ikut dengan kamu di halte sebelah
kiri,” Apa boleh buat, aku harus mengalah kali ini. Akhirnya aku ikut berdiri
di sebelah Clista di halte sebelah kiri.
“Xav, kamu sebenarnya suka sama Stephanie gak sih?”
tanya Clista tiba-tiba.
Aku lalu mengerjapkan mata beberapa kali, sedikit
terkejut dengan pertanyaan yang Clista lontarkan padaku. “Tidak. Aku sama
sekali tidak suka padanya,” jawabku datar.
“Tapi, kamu kelihatan seperti suka sama dia loh,
Xav. Saranku, mendingan kamu jujur aja deh sama Steph, daripada php begitu.”
“Apa kamu bilang tadi, Clist? Php? Apaan tuh?”
tanyaku setengah penasaran.
“Pemberi harapan palsu, Dodol. Makanya kamu itu jadi cowok harus gentle donk. Katakan yang
sebenarnya, sehingga Stephanie tidak lagi menganggap kamu memberikan harapan
sama dia. Asal kamu tahu, Xav, cewek kalau sekali sudah diberi harapan oleh
seorang cowok, maka si cewek itu akan terus berharap kalau si cowok bakalan
menyatakan cinta padanya.” nasihat Clista membuatku sedikit tercengang.
“Aku sudah pernah jujur padanya Clist. Dulu waktu di
rumah dia dan waktu di tempat karaoke. Aku sudah bilang padanya, kalau aku
tidak ada rasa dengannya. Karena aku sudah punya pujaan hati sendiri, Clist,”
jelasku.
‘Dan orang itu adalah kamu, Clist.’ lanjutku dalam
hati.
Kulihat Clista sudah kehabisan kata-kata. Begitupun
denganku. Akhirnya sampai bis jurusan daerah kami datang, kami hanya saling
terdiam.
***
Hari ini kelas kami mengadakan take foto untuk buku tahunan sekolah.
Kelas kami mengambil lokasi pemotretan di sebuah kawasan taman wisata air yang
terkenal di daerah Puebla, Puebla Waterpark.
Jam di hp-ku sudah menunjukkan pukul
lima dini hari. Tapi, Clista sama sekali belum berangkat. Padahal waktu
berkumpul adalah jam lima. Segera aku mengirim sebuah email untuknya. Tidak
berapa lama, sebuah email masuk ke dalam inbox.
Dari Clista. Ga salah nih, dia cuma membalas email-ku dengan dua kata ‘iya’ ?
Grrr, dasar nih anak. Awas saja nanti kalau kamu sudah sampai sini!
Sepuluh menit sudah berlalu. Tapi,
Clista sama sekali belum kelihatan. Aku menjadi sedikit khawatir karenanya.
Semoga dia baik-baik saja. Sebuah sinar lampu sign membuatku tersadar dari
lamunanku. Kulihat sebuah sepeda motor matic berwarna hitam parkir dua meter
dari tempatku berdiri sekarang. Ternyata itu Clista yang baru berangkat. Dan―
WOW!
Dia kelihatan cantik dengan kemeja
putih yang membalut tubuhnya dan celana jeans biru tua yang mengikuti bentuk
kakinya. Tuhan, inikah salah satu malaikatMu?
Tidak henti-hentinya aku terus
memandangi dia. Maklum saja, boleh dibilang ini adalah kali pertama aku melihat
Clista memakai pakaian semi formal seperti itu. Biasanya aku hanya melihat dia
dengan seragam sekolah saja, atau pakaian sehari-hari.
Kulihat Clista tersenyum lebar ke
arahku. Dia sedikit terlihat lebih tinggi dengan higheels lima centi yang dipakainya. Setelah itu, Clista langsung
menghampiri José, menawarkan makanan yang dibawanya.
‘Kruyuk kruyuk’
Oh tidak. Perutku ikut berbunyi juga
ternyata. Apa boleh buat, tadi aku berangkatnya terburu-buru, jadi belum sempat
sarapan. Segera aku menghampiri Clista dan José, bermaksud untuk meminta bagian
sarapan. Kulirik bekal yang dibawa oleh Clista. Ada tacos, enchilada, kentucky,
dan juga buah jeruk. Tidak lupa dengan sebotol air meneral.
Tanpa meminta izin, karena pasti
akan diizinkan oleh Clista, aku lalu mencomot kentucky dan sebuah tacos. Kata
Clista, kentucky-nya dibuat sendiri oleh ibunya, bukan beli. Ah, kalau aku
punya ibu seperti ibunya Clista, pasti deh aku bakalan makmur, hehe...
Hmm, ternyata kentucky buatan ibu
Clista memang enak. Apalagi kalau dimakan dengan tacos ini. Tambah sedap. Aku
lalu mencomot kembali sepotong kentucky dan kemudian memasukkannya ke dalam mulut.
“Terima kasih ya, Clist,” ucapku dengan mulut yang penuh dengan kentucky.
“Yoyoi,” sahut Clista.
***
Empat puluh lima menit sudah
berlalu. Tetapi, Manuel belum berangkat juga. Padahal teman-temanku yang lain
sudah berangkat semua. Aku sudah berusaha untuk menghubunginya tadi, tapi
hasilnya nihil. Benar-benar merepotkan ini anak!
“Hei, ini sudah jam setengah enam
lebih. Sebaiknya kita berangkat sekarang saja. Soal Manuel, lebih baik nanti
salah satu dari kita ada yang nyamperin dia
di rumahnya. Lagipula kita kan melewati rumahnya.”
Suara nan cempreng khas Cecilia
membuyarkan lamunanku. Tanpa banyak bicara, aku lalu mengikuti instruksinya.
Bergegas aku naik ke atas motor dan memakai helm-ku. Kulihat Teresa berjalan ke
arahku. Aku lupa, kalau dialah yang akan aku boncengkan. Setelah menarik nafas
panjang, aku lalu menyalakan motor matic ini.
Sekilas kulihat Clista yang masuk ke
dalam mobil milik Luis. Agak sedikit sebal melihat kenyataan kalau Clista tidak
bisa aku boncengkan kali ini. ‘Semoga kamu baik-baik saja di sana, Clist,’
doaku dalam hati.
Setelah semua persiapan selesai, dan
mobil milik Juan maupun Luis sudah melaju terlebih dahulu, aku lalu
mengemudikan motor di belakang kedua mobil itu. Hati-hati aku dalam
mengemudikan motor matic ini, karena di sebelah motorku ada Daniel yang
memboncengkan Rosie.
Dalam hati aku mencibir mereka
berdua. ‘Kalau aku jadi kamu, Dan, dulu
sewaktu pembagian siapa yang akan membonceng, aku bakalan milih Clista buat aku
boncengin. Bukannya menyetujui untuk memboncengkan Rosie. Huu, dasar kamu cowok
php, Dan.’
Sekarang aku mengerti, kenapa raut
muka Clista terlihat lesu saat akan berangkat tadi. Jawabannya cuma satu, si
anak bengal ini, Daniel Pattinson. Hah, sudahlah. Lebih baik aku konsentrasi
dalam mengemudikan motor ini saja. Tidak usah memikirkan Clista maupun Daniel.
***
Akhirnya setelah hampir satu jam aku
mengemudikan motor, sampai juga di Puebla WaterPark. Setelah memakirkan motor,
aku lalu bergabung dengan yang lainnya yang sudah lebih dulu sampai, termasuk
Clista. Kulihat, dia sudah terlihat ceria lagi. Semoga dia akan terus begitu.
Iseng aku lalu mengedarkan
pandanganku ke sekeliling. Tempat ini sedikit terasa asing untukku. Maklum
saja, terakhir kali aku ke sini, adalah saat karyawisata SD, beberapa tahun
silam. Pantas saja, kalau Puebla WaterPark sudah berubah. Meski tidak banyak.
“Hei, ayo masuk.”
Lagi-lagi suara cempreng Cecilia
memasuki indera pendengaranku. Sepertinya ni anak emang suka sekali berteriak.
Apa boleh buat. Setelah membayar tiket masuk, aku mengikuti langkah
teman-temanku yang lain memasuki pintu masuk Puebla WaterPark.
‘Welcome to Puebla WaterPark,’
ucapku dalam hati sambil sedikit tersenyum.
***
Grrr, apa-apaan si Stephanie ini?
Orang aku gak mau foto bareng dengannya, kenapa juga dia harus maksa?
“Xav, foto bareng yuk. Please, Xav.”
Aku yang hendak menuju paddock, di mana di situ ada Clista,
akhirnya harus jalan mondar-mandir, hanya karena si Stephanie ini. Memang dia
gak malu apa? Harusnya dia tahu diri donk, kalo aku gak mau ya, jangan dipaksa lah.
Apalagi sekarang kami berdua menjadi bahan tertawaan teman-teman. Clista juga
ikut tertawa lagi. Menyebalkan!
Beruntung, tak lama kulihat Daniel
berjalan ke arah kami. Dalam sekejap, Stephanie langsung berlari menghampiri
Daniel.
“Daniel, kamu ganteng banget sih.
Foto bareng ya, Dan?”
Ya ampun, si Stephanie ini emang gak
punya rasa malu apa? Aku akui, saat ini Daniel memang terlihat lebih keren.
Selain karena rambutnya yang dibentuk spiky, tapi juga karena ketampanan
wajahnya. Apalagi kalau dia memakai jaket kulit seperti itu. Tambah keren deh.
Satu bocoran ya, jaket kulit yang dipakai oleh Daniel itu punya José loh, bukan
punya dia sendiri, hehe.
Akhirnya aku bisa lolos juga dari
Stephanie. Dengan tenang, aku lalu melangkah ke paddock. Kulihat Clista yang duduk sendirian. Baru saja aku berniat
untuk duduk di sebelahnya, ketika José duduk di sebelahnya. Aku akhirnya
mengalah, duduk tidak jauh dari mereka berdua.
Sambil terus menyeruput es teh di
tanganku, aku tidak henti-hentinya mengamati Clista. Saat aku lebih jeli
mengamatinya, ternyata arah pandangan Clista tertuju pada Daniel. Meski
sebenarnya pandangannya terkesan kosong dan hampa. Aku mengerti sekarang.
Ternyata memang benar kalau Clista menyukai Daniel. Hanya saja Daniel tidak
mengetahuinya. Andai Daniel mengetahuinya, mungkin dia akan sangat bahagia
karena cintanya bertaut.
Tidak boleh! Clista dan Daniel tidak
boleh pacaran. Boleh mereka pacaran, asalkan aku sudah tidak lagi menyukai
Clista. Nanti yang ada malah aku selalu cemburu pada mereka. Argh, kenapa aku
malah jadi mengigau seperti ini sih? Lagipula selama janur kuning belum
melengkung, aku masih punya kesempatan untuk mendekati Clista bukan?
Ya ya, masih ada banyak waktu dan
kesempatan untukku. Semangat Xavi!
***
Setelah hampir seharian di Puebla
WaterPark, akhirnya kami pulang juga ke sekolah. Setelah ini, baru kami pulang
ke rumah masing-masing. Kulirik jam digital di hp. Sudah jam empat sore. Tapi,
mobil milik Luis belum kelihatan juga. Padahal seperempat jam yang lalu,Clista
bilang kalau sudah sampai di San Luis Potosí. Dan seharusnya mereka sudah
sampai di sini.
Sebenarnya aku ingin langsung pulang
tadi. Tapi, aku ingat kalau Clista ingin pulang bareng. Jadi, apa boleh buat,
aku harus menunggunya sampai di sini. Lagipula ini kesempatan emasku untuk
mengantarkan Clista sampai rumahnya.
Tak berapa lama, dari utara kulihat
sebuah mobil berwarna abu-abu memasuki gerbang Nuevo León High School. Benar
sekali. Itu adalah mobilnya Luis. Mobil berwarna abu-abu itu lalu berhenti di
depan gerbang selatan Nuevo León High School, dekat tempatku duduk sekarang.
Kulihat Clista turun dari pintu
sebelah kiri. Dia kelihatan lelah. Setelah turun dari mobil, Clista lalu
membuka bagasi mobilnya dan mengambil tasnya dari dalam sana. Aku bersyukur
dalam hati karena dia sama sekali tidak kehujanan. Karena sepanjang perjalanan
pulang tadi, hujan mengguyur Puebla sampai León.
Brrr.
Aku merasakan tubuhku mulai
menggigil. Salahkan aku yang tidak membawa mantel hari ini. Iya iya, aku tahu,
aku terkadang memang ceroboh kok. Tapi, sekalipun membawa mantel, aku pasti
akan menyuruh Rosie untuk memakainya. Ah iya, tadi pagi Rosie memang membonceng
Daniel. Tapi, berhubung Daniel pulang lebih dulu, jadinya Rosie meminta untuk
membonceng motorku. Dan si Teresa jadinya membonceng Miguel.
Brrr.
Lagi-lagi tubuhku menggigil. Argh,
aku ingin cepat-cepat sampai rumah dan menghangatkan tubuh. Tapi, sepertinya
niat itu harus tertunda, karena barusan Miguel mengajak untuk makan terlebih
dahulu. Dan sepertinya Dewi Fortuna sedang berpihak kepadakau. Karena ternyata
warung makan yang akan kami tuju, sudah habis makanannya. Beruntungnya aku.
“Xav, pulang sekarang yuk,” ajak
Clista sambil menyerahkan tas punggungku yang tergeletak di gazebo. Entah sejak
kapan dia sudah berada di sampingku.
Aku lalu mengambil tas punggungku
dan meletakkannya di bawah kemudi motor. Nanti kalau aku pakai, bisa-bisa
Clista tidak bisa duduk di boncengan. Setelah itu aku mulai menghidupkan mesin.
Bergegas Clista duduk di belakangku. Anehnya, aku merasa sedikit berdebar
karenanya.
Setelah berpamitan pada
teman-temanku yang belum pada pulang, aku lalu menambah kecepatan. Dan bodohnya
aku, hal ini justru membuatku merasa semakin menggigil. Sehingga tanpa sadar,
aku membuat motor menjadi sedikit oleng.
PUK
Kurasakan tangan Clista menepuk
bahuku cukup keras. “Jangan rogeh
kenapa Xav?” serunya.
“Aku menggigil koh, Clist,” sahutku
sekenanya.
Hening. Dari kaca spion, terlihat
kalau Clista sedang sibuk mengambil sesuatu dari dalam tas-nya. Sebuah minyak
angin aromaterapi. Oh tidak! Aku kan tidak suka dengan itu.
“Jangan pakein itu, Clist. Aku gak
suka.” ucapku, begitu Clista terlihat hendak membuka tutup botol.
“Kenapa memangnya, Dan? Ini kan bisa
membuat kamu jadi hangat,” jawabnya sambil memasukkan kembali minyak angin
aromaterapi ke dalam tasnya.
“Pokoknya jangan lah.” Sahutku
cepat. Bukan apa-apa sebenarnya. Hanya saja dari kecil, aku memang tidak suka
segala hal yang berbau seperti itu. Dan sayangnya, setelah ini, keadaan malah
menjadi hening. Apa sebaiknya aku jujur sekarang saja ya? Tapi, kalau nanti
Clista marah padaku, bagaimana donk? Ah, sudahlah. Entah kapan lagi kesempatan
bagus seperti ini akan muncul.
“Clist?” tanyaku hati-hati. Aku
takut kalau dia mengantuk kemudian tertidur. Bisa bahaya nanti.
“Ada apa, Xav?” jawabnya pelan.
Sepertinya dia memang sedikit mengantuk.
“Aku pengin bilang sesuatu. Jadi,
tolong kamu dengarkan baik-baik ya.”
“Ehm, baiklah. Akan aku dengarkan.”
Setelah mendapat kesanggupan dari
Clista, aku lalu mengumpulkan segenap keberanianku.
“Clist, kamu sadar gak kalau selama
ini, ada seseorang yang selalu memperhatikan kamu?”
“Hmm, sepertinya tidak. Memangnya
kenapa, Dan?” tanyanya. Sepertinya dia penasaran.
“Jujur saja ya, Clist. Sebenarnya
selama ini aku selalu memperhatikanmu loh. Yah, memang aku hanya
memperhatikanmu saat di sekolah saja. Dan kamu pasti tahu apa maksudku kan?”
Kulihat Clista menggelengkan
kepalanya. “Tidak. Memangnya kamu mau bilang apa sih, Xav? Cepetan donk.
Penasaran tahu.”
“Hehe. Biarin aja kamu penasaran,
Clist. Mungkin memang sebaiknya aku tidak usah bilang saja apa ya?” gurauku.
Kulirik Clista dari spion motor.
Benar saja, ternyata dia memasang tampang cemberut. Hihi, baiklah, apa boleh
buat. Lebih baik aku jujur saja padanya. Setelah menenangkan diri sejenak dan
menyusun kata-kata, akhirnya aku kembali membuka suara.
“Clist, aku suka sama kamu. Ah,
mungkin lebih dari sekedar suka. Aku mencintaimu, Clist.” ucapku dalam satu
tarikan nafas.
Hening.
“Eh? Kau bilang apa tadi, Xav? Aku
gak salah dengar kan?” tanyanya.
Aku menggelengkan kepalaku sebagai
jawaban. Kulihat raut muka Clista setengah tidak percaya dengan kata-kataku
barusan. Clista dengan segera memalingkan pandangannya dariku. Raut mukanya
terlihat sendu. Mungkinkah kata-kataku telah melukai hatinya?
“Ah, maaf, Clist. Mungkin ini
terlalu cepat. Tapi, aku pikir ini merupakan saat yang tepat. Jadi―”
“Tidak apa-apa kok, Xav. Aku
mengerti. Sangat mengerti. Tapi, aku merasa kalau kau salah orang, Xav. Aku
tidak pantas mendapatkan ucapan seperti itu darimu. Hanya Stephanie yang pantas
mendapatkan ucapan itu darimu,” potong Clista cepat, ketika aku hendak meminta
maaf atas pengakuanku yang tiba-tiba.
“Clist―”
“Hiks, maafkan aku, Xav. Aku tidak
bisa membalas perasaanmu. Karena aku―”
CKIIT
Aku lalu menghentikan motorku dengan
tiba-tiba. Cukup. Aku tidak ingin melihat Clista yang seperti ini. Segera aku
buka helm yang menutupi kepalaku. Kutolehkan kepalaku ke belakang dan kutatap
Clista lekat-lekat.
“Clist, dengarkan aku. Aku harus
berapa kali bilang sama kamu, aku itu sama sekali gak ada rasa dengan
Stephanie. Karena hanya kamu yang aku suka. Tidak ada yang lain.”
Aku lalu turun dari motorku dan
berdiri di samping motor. “Aku tahu kok alasan kamu tidak membalas perasaanku.
Itu semua karena ada orang yang kamu sukai bukan? Dan orang itu adalah orang
yang sama-sama kita kenal. Benar kan?”
Kulirik Clista dari ekor mataku.
Matanya terlihat sembap. Aku yakin, meski hanya satu tetes, tapi tetap saja
telah menangis. Aku lalu menghela nafas panjang, sebelum kembali memakai
helm-ku dan naik ke atas motor.
GREP
“Tapi, kita tetap berteman kan, Xav?”
Aku lalu tersenyum samar mendengar
ucapan Clista barusan. “Tentu saja, Clist. Kita tetap berteman, sampai
kapanpun.”
“Terima kasih, Xav. Ah iya, boleh
kan kalau aku menggunakan punggungmu sebagai sandaran?” pintanya.
“Iya. Silakan.”
“Hm, terima kasih.”
Kurasakan punggungku terasa berat.
Mungkin Clista memang sudah tertidur di punggungku. Hati-hati, aku mulai
menghidupkan mesin motor dan melajukannya kembali.
‘Aku
memang tidak bisa menggantikan Daniel di hatimu, Clist. Tetapi, setidaknya
jangan pernah menyuruhku untuk menyukai Stephanie. Kumohon, mengertilah, Clist.
Karena aku berharap hanya dirimulah yang ‘kan terus berada di hatiku.’
~ F-I-N ~