Sabtu, 07 Desember 2013



Setengah Sayap
By : Rizuki -FAR-
“Xavi, tunggu aku!”
            Dengan segera aku menghentikan langkah kakiku. Padahal tiga meter dari tempatku berdiri, pintu kelasku, kelas 3-7, sudah terlihat. Sedikit enggan aku menolehkan kepalaku ke belakang. Benar saja. Ternyata memang Clista yang memanggilku. Kulihat dia sedikit berlari kecil menghampiriku.
            “Curang kamu. Padahal tadi kita kan satu bus. Kamu jalan apa lari sih?” cerocosnya, begitu dia sudah berada di sebelahku.
            “Ya lari lah. Jelas-jelas tadi aku jalan, gimana sih kamu?” sahutku sambil meneruskan langkah kakiku yang sempat tertunda. Ingin rasanya aku menjitak kepala si cewek mungil di sampingku ini, saking aku gemesnya melihat tingkah laku dia, yang terkadang bisa membuat ubun-ubunku mendidih.
            “Hehe, peace, Xav. Cuma bercanda kok,” ujarnya, sambil mengacungkan kedua jemari tangan kanannya yang membentuk simbol ‘victory’ di depan wajahnya.
            “Iya iya. Aku tahu kok,” sahutku. Tanpa terasa kami sudah sampai di depan kelas. Segera kami memasuki kelas dan memilih tempat duduk. Maklum saja, sistem tempat duduk di kelasku ini, siapa yang berangkatnya pagi, maka dia bebas memilih tempat duduk. Aku memilih untuk duduk di meja paling depan di barisan paling kanan, atau tepat di depan meja Clista.
            Kuamati keadaan kelas yang masih sepi. Ternyata baru empat orang, termasuk aku, yang sudah berangkat. Sementara teman-temanku yang lainnya sih, biasanya berangkat agak siangan. Terutama si Daniel tuh, yang aku juluki si Raja Terlambat. Karena hampir setiap hari dia selalu berangkat terlambat. Padahal dia sudah tingkat tiga, tapi belum juga hilang kebiasaan buruknya itu.
            Karena masih ada dua puluh menit sebelum bel masuk berbunyi, akhirnya aku putuskan untuk search gambar Meme Comics Indonesia di google.
            BRUK
            Kualihkan pandanganku sejenak pada bangku sebelahku yang baru saja terisi dengan sebuah tas berwarna cokelat hitam. Ternyata Colin yang baru saja meletakkan tas punggung berwarna cokelat hitam itu.
            “Ada PR gak, Xav?” tanyanya sambil mengeluarkan sebuat netbook dari dalam tasnya.
            “Gak ada kayaknya loh,” jawabku, tanpa mengalihkan perhatianku dari gambar-gambar Meme Comics di hp.
            “Bagus,” balasnya sambil menjentikkan jari tangannya. Dan kelihatannya dia sudah sibuk dengan kegiatan browsing-nya.
            TAP
            “Selamat pagi,” sapa Stephanie yang baru saja masuk kelas.
            “Selamat pagi,” balas teman-temanku, terkecuali aku. Ketahuilah, aku tidak suka berinteraksi dengan dia. Ini semua gara-gara dia yang mempunyai rasa padaku. Memang itu kedengarannya kejam, tapi daripada menimbulkan gosip yang berlarut-larut, lebih baik aku menjaga jarak dengannya.
            Meskipun sudah menjaga jarak dengan Stephanie, tetap saja aku terkena gosip. Beberapa hari ini, aku digosipkan berpacaran dengan Clista. Ini semua gara-gara Steven, yang dengan seenaknya mengambil kesimpulan, hanya gara-gara aku yang kadang-kadang memboncengkan Clista ketika pulang sekolah. Kurasa tidak masalah kalau aku mengantarkan Clista sampai rumahnya, toh rumahnya memang searah denganku. Untung saja, yang tahu tentang gosip ini hanya beberapa orang saja. Dan kuharap gosip ini tidak menyebar terlalu luas. Semoga.
            TEET   TEET   TEET
            Entah sudah berapa lama aku melamun, bahkan aku sampai melupakan gambar-gambar Meme Comics yang ingin aku download. Sampai-sampai aku tidak menyadari kalau bel masuk sudah berbunyi. Segera aku mematikan hp dan mengeluarkan buku pelajaran dari dalam tas. Jam pertama adalah pelajaran Ilmu Kebumian.
            Tak berapa lama, Bu Zeverina memasuki kelas. Setelah memberi salam, beliau langsung menyuruh kami untuk membentuk kelompok. Satu kelompok empat orang dan terdiri dari dua meja, depan-belakang. Itu artinya aku sekelompok dengan Clista dan Maria, dan juga Colin tentunya.
            Kami mendapat tugas untuk mencari perbedaan antara desa dan kota. Termasuk pula di dalamnya, ciri-ciri fisik dan budaya masyarakat desa dan kota, di samping karakteristik desa dan kota pastinya.
            TOK    TOK
            Terdengar pintu diketuk. Kutolehkan kepalaku ke arah pintu untuk melihat siapa yang datang.
            “Permisi. Selamat pagi,” ucap orang itu, yang berdiri di depan pintu dengan wajah innocent-nya. Yap, benar. Itu memang Daniel yang baru berangkat. Beruntung, Bu Zaverine orangnya tidak terlalu galak, jadi selamatlah dirimu, Dan.
            “Silakan masuk,” perintah Bu Zaverine.
            Setelah mendapat izin, Daniel lalu masuk ke dalam kelas dan menuju satu-satunya tempat duduk yang masih kosong.
            DEG
            Perasaan apa ini? Aku barusan salah lihat kan? Barusan aku melihat ada yang berbeda dari tatapan Clista pada Daniel. Ah, mungkin hanya perasaanku saja. Tidak lebih.
            “Hei, ini bagaimana? Apa cari aja di internet?”
            Pertanyaan Maria berhasil membuatku kembali ke alam sadar. Tanpa aku sadari Colin menyenggol siku tangan kananku dengan keras.
            “Apaan sih?” tanyaku setengah berbisik.
            Bukannya menjawab pertanyaanku, Colin malah menyodorkan netbook-nya ke hadapanku. “Nih, kamu diberi tugas buat nyari materi di internet. Sementara aku akan baca materi di buku,” jelasnya padaku, disertai dengan cengiran khasnya.
            “Dasar,” gerutuku. Sedikit enggan, aku mulai browsing di internet. Daripada browsing beginian, mending aku browsing yang lain aja deh.
            “Hei, browsing yang bener napa sih! Malah browsing yang gak jelas begitu. Sini biar aku yang cari.”
            Dengan kasar, Clista mengalihkan netbook Colin, yang semula menghadap ke arahku, menjadi menghadap ke arahnya. Kulihat jemari mungilnya dengan lincah menari di atas keyboard netbook. Hal itu berbanding terbalik dengan raut mukanya yang terlihat tidak bersemangat. ‘Ada apa denganmu, Clist?’ tanyaku dalam hati.
            Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya Clista berhasil menemukan materi yang kami butuhkan, tentunya dengan bantuan dari Maria juga. Dengan telaten, Clista menyalin materi dari internet dan buku ke kertas tugas.
            Akhirnya sekitar empat puluh lima menit kemudian, tugas kami selesai juga. Setelah dikoreksi ulang oleh Maria, tugas kami lalu dikumpulkan oleh Colin. Hehe, kalau aku sekelompok dengan mereka bertiga, aku selalu beruntung. Ya iyalah, secara yang bertugas adalah mereka bertiga, bukan aku. Paling tugasku cuma mengganggu mereka, hehe...
            DEG
            Kenapa lagi ini? Kenapa perasaanku menjadi tidak enak seperti ini? Segera aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling. Semuanya baik-baik saj― Tunggu. Clista. Kenapa sebenarnya ni anak? Perasaan tadi pas berangkat sekolah dia baik-baik saja deh.
            “Clist,” panggilku, sepelan mungkin.
            “Eh, ada apa Xav?” tanyanya setengah kaget. Sepertinya dia habis melamun.
            “Hmm itu, kamu lagi ada masalah apa? Kelihatannya kamu gak mood banget,” Uh, ini bukan aku banget. Seenaknya saja tanya soal privacy orang.
            Kulihat dia tersenyum simpul. “Gak ada kok. Aku sudah biasa dapet masalah seperti ini. Jadi jangan khawatir. Ah iya, terima kasih karena telah mengkhawatirkanku, Xav.”
            Tanpa aku sadari, aku ikut tersenyum. Entah mengapa saat melihat Clista tersenyum, membuat hatiku terasa lebih plong. “Yap, sama-sama,”
            Kuharap aku akan selalu melihat senyumanmu itu, Clist,’ harapku dalam hati.
***
            TEET   TEET   TEET
Akhirnya jam terakhir selesai juga. Aku lalu meregangkan otot tubuhku yang terasa sedikit kaku. Setelah ini, aku ingin bermain Pockie Ninja sebentar di netbook Colin. Pak Jiménez, selaku guru pelajaran Agama, sudah keluar kelas. Ok, this time for party. Yeha!
Di tengah-tengah aku memainkan Pockie Ninja, kulirik Clista di belakangku yang juga sedang asyik main netbook. “Clist, pulang jam berapa?” tanyaku spontan.
“Eh?” Dia kemudian melihat jam tangannya. “Satu jam-an lagi ya. Tanggung nih download-nya,” jawabnya.
“Ok,” balasku sambil mulai fokus kembali pada netbook Colin. Sebentar lagi aku bakalan naik level nih...
“Xav, gantian donk.”
Heh, kenapa mesti ada gangguan sih? Padahal Colin aja sudah ikhlas netbooknya aku pinjam. Tapi, kenapa nih anak satu datang mengganggu sih?
“Pake laptop kamu sendiri napa, Dan? Tanggung nih mainnya,” ucapku, tanpa mengurangi konsentrasiku bermain Pockie Ninja.
“Baterai laptopku habis, Xav. Aku gak bawa charger,” ujarnya.
Sedikit enggan aku menatap wajahnya, setelah sebelumnya aku mem-pause Pockie Ninja. “Emang kamu mau ngapain sih Dan?”
“Ah, pokoknya ada deh. Cuma sebentar kok,” pintanya lagi.
Setelah menghela nafas panjang, aku lalu menyerahkan netbook Colin pada Daniel. Iseng aku mengintip apa yang Daniel lakukan. Ternyata dia mau facebook-an toh. Tunggu dulu.
APA?
Si Daniel buka facebook-nya Clista? Yang bener aja?
“Gak salah tuh, Dan? Aha! Jangan-jangan kamu suka sama Clist― Hmmp... Hmmp...”
Apa-apaan sih ni anak? Main bekep segala. Memangnya kenapa kalau Clista tahu? Bukannya malah bagus ya? Sekuat tenaga aku berusaha untuk melepaskan bekapan Daniel. Setelah hampir satu menit Daniel membekapku, akhirnya dia mau untuk melepaskan bekapannya dari mulutku. Itupun setelah dia mendapat tatapan tajam dari Clista. Oh, Clist, kau adalah penyelamatku.
BUG
Dengan kasar aku meninju lengan kanan Daniel. Kurasa itu sebanding dengan perlakuannya padaku tadi.
“Aduh, sakit, Xav.” gerutunya.
Segera saja aku pelototi dia. “Itu sebanding dengan aku yang kesulitan bernafas sewaktu kamu bekep tadi, Dan. Lagian kalau kamu suka, tinggal bilang aja ama anaknya. Gak usah sembunyi-sembunyi gitu,”
Entah mengapa setelah kalimat-kalimat itu keluar dari mulutku, hatiku rasanya sakit. Seolah-olah ada seribu pisau yang mengiris-iris hatiku menjadi irisan super tipis. Ok, ini memang terlalu hiperbola, tapi memang itulah kenyataannya. Mungkinkah aku cemburu?
BUG
Sekarang giliran lengan kiriku yang mendapat tinju dari Daniel.
“Balas dendam nih ceritanya?” tantangku, sambil memberikan tatapan tajam padanya.
“Bukan begitu, Xav. Sebenarnya aku juga ingin jujur pada dia. Tapi, aku tidak punya keberanian untuk itu. Selain itu, kau juga pasti tahu, kalau dia menyukai orang lain bukan? Kalau tidak salah namanya Farvel, temannya sewaktu masih SMP dulu. Aku takut, kalau dia akan menolak perasaanku.” jelas Daniel luas.
Aku tidak pernah tahu, ternyata Daniel mempunyai sisi lemah juga. Aku kira hidupnya selalu tanpa beban. Tetapi, ternyata jauh di dalam hatinya yang paling dalam, dia mempunyai rasa takut yang berkepanjangan.
PUK
“Semangat Dan. Percayalah kalau kau pasti bisa mendapatkan dia,” ucapku sambil merangkul bahunya.
“Terima kasih, Xav,” ucapnya sambil balas merangkul bahuku. Kami lalu sama-sama tertawa kecil, sebelum aku tersadarkan oleh sesuatu. Segera aku menengok ke belakang. Benar saja. Ternyata Clista sudah merapikan netbook-nya.
“Pulang sekarang, Clist?” tanyaku untuk memastikan.
Dan Clista hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, sebelum sosok mungilnya menghilang di balik pintu kelas.
“Ok, Dan. Aku pulang duluan ya. Sampai jumpa,” pamitku pada Daniel. Tergesa-gesa aku memasukkan peralatan menulisku ke dalam tas, sebelum aku mulai berlari untuk menyusul Clista.
“Clist, tunggu!” seruku, membuat beberapa anak kelas lainnya menoleh ke arahku. Dan aku hanya bisa nyengir saja ke arah mereka. Tanpa mempedulikan anak-anak kelas lain, aku terus berlari mengejar Clista, yang entah ini hanya perasaanku saja, atau memang kenyataan, jalannya Clista cepat sekali!
Akhirnya aku berhasil juga mensejajarkan langkahku dengannya. Jujur saja, aku suka posisi ini. Maksudku jalan bersebelahan dengan Clista. Memang, kalau diperhatikan tinggi badan kami terpaut lumayan jauh, tapi menurutku justru itulah yang ideal.
“Aku nanti nunggu bisnya di halte sebelah kanan. Kamu di halte sebelah kiri aja ya?” saranku, saat kami telah melewati pintu gerbang.
Hening. Tidak ada jawaban.
“Baiklah, aku akan ikut dengan kamu di halte sebelah kiri,” Apa boleh buat, aku harus mengalah kali ini. Akhirnya aku ikut berdiri di sebelah Clista di halte sebelah kiri.
“Xav, kamu sebenarnya suka sama Stephanie gak sih?” tanya Clista tiba-tiba.
Aku lalu mengerjapkan mata beberapa kali, sedikit terkejut dengan pertanyaan yang Clista lontarkan padaku. “Tidak. Aku sama sekali tidak suka padanya,” jawabku datar.
“Tapi, kamu kelihatan seperti suka sama dia loh, Xav. Saranku, mendingan kamu jujur aja deh sama Steph, daripada php begitu.”
“Apa kamu bilang tadi, Clist? Php? Apaan tuh?” tanyaku setengah penasaran.
“Pemberi harapan palsu, Dodol. Makanya kamu itu jadi cowok harus gentle donk. Katakan yang sebenarnya, sehingga Stephanie tidak lagi menganggap kamu memberikan harapan sama dia. Asal kamu tahu, Xav, cewek kalau sekali sudah diberi harapan oleh seorang cowok, maka si cewek itu akan terus berharap kalau si cowok bakalan menyatakan cinta padanya.” nasihat Clista membuatku sedikit tercengang.
“Aku sudah pernah jujur padanya Clist. Dulu waktu di rumah dia dan waktu di tempat karaoke. Aku sudah bilang padanya, kalau aku tidak ada rasa dengannya. Karena aku sudah punya pujaan hati sendiri, Clist,” jelasku.
‘Dan orang itu adalah kamu, Clist.’ lanjutku dalam hati.
Kulihat Clista sudah kehabisan kata-kata. Begitupun denganku. Akhirnya sampai bis jurusan daerah kami datang, kami hanya saling terdiam.
***
            Hari ini kelas kami mengadakan take foto untuk buku tahunan sekolah. Kelas kami mengambil lokasi pemotretan di sebuah kawasan taman wisata air yang terkenal di daerah Puebla, Puebla Waterpark.
            Jam di hp-ku sudah menunjukkan pukul lima dini hari. Tapi, Clista sama sekali belum berangkat. Padahal waktu berkumpul adalah jam lima. Segera aku mengirim sebuah email untuknya. Tidak berapa lama, sebuah email masuk ke dalam inbox. Dari Clista. Ga salah nih, dia cuma membalas email-ku dengan dua kata ‘iya’ ? Grrr, dasar nih anak. Awas saja nanti kalau kamu sudah sampai sini!
           Sepuluh menit sudah berlalu. Tapi, Clista sama sekali belum kelihatan. Aku menjadi sedikit khawatir karenanya. Semoga dia baik-baik saja. Sebuah sinar lampu sign membuatku tersadar dari lamunanku. Kulihat sebuah sepeda motor matic berwarna hitam parkir dua meter dari tempatku berdiri sekarang. Ternyata itu Clista yang baru berangkat. Dan―
            WOW!
            Dia kelihatan cantik dengan kemeja putih yang membalut tubuhnya dan celana jeans biru tua yang mengikuti bentuk kakinya. Tuhan, inikah salah satu malaikatMu?
            Tidak henti-hentinya aku terus memandangi dia. Maklum saja, boleh dibilang ini adalah kali pertama aku melihat Clista memakai pakaian semi formal seperti itu. Biasanya aku hanya melihat dia dengan seragam sekolah saja, atau pakaian sehari-hari.
            Kulihat Clista tersenyum lebar ke arahku. Dia sedikit terlihat lebih tinggi dengan higheels lima centi yang dipakainya. Setelah itu, Clista langsung menghampiri José, menawarkan makanan yang dibawanya.
            ‘Kruyuk kruyuk’
            Oh tidak. Perutku ikut berbunyi juga ternyata. Apa boleh buat, tadi aku berangkatnya terburu-buru, jadi belum sempat sarapan. Segera aku menghampiri Clista dan José, bermaksud untuk meminta bagian sarapan. Kulirik bekal yang dibawa oleh Clista. Ada tacos, enchilada, kentucky, dan juga buah jeruk. Tidak lupa dengan sebotol air meneral.
            Tanpa meminta izin, karena pasti akan diizinkan oleh Clista, aku lalu mencomot kentucky dan sebuah tacos. Kata Clista, kentucky-nya dibuat sendiri oleh ibunya, bukan beli. Ah, kalau aku punya ibu seperti ibunya Clista, pasti deh aku bakalan makmur, hehe...
            Hmm, ternyata kentucky buatan ibu Clista memang enak. Apalagi kalau dimakan dengan tacos ini. Tambah sedap. Aku lalu mencomot kembali sepotong kentucky dan kemudian memasukkannya ke dalam mulut. “Terima kasih ya, Clist,” ucapku dengan mulut yang penuh dengan kentucky.
            “Yoyoi,” sahut Clista.
***
            Empat puluh lima menit sudah berlalu. Tetapi, Manuel belum berangkat juga. Padahal teman-temanku yang lain sudah berangkat semua. Aku sudah berusaha untuk menghubunginya tadi, tapi hasilnya nihil. Benar-benar merepotkan ini anak!
            “Hei, ini sudah jam setengah enam lebih. Sebaiknya kita berangkat sekarang saja. Soal Manuel, lebih baik nanti salah satu dari kita ada yang nyamperin dia di rumahnya. Lagipula kita kan melewati rumahnya.”
            Suara nan cempreng khas Cecilia membuyarkan lamunanku. Tanpa banyak bicara, aku lalu mengikuti instruksinya. Bergegas aku naik ke atas motor dan memakai helm-ku. Kulihat Teresa berjalan ke arahku. Aku lupa, kalau dialah yang akan aku boncengkan. Setelah menarik nafas panjang, aku lalu menyalakan motor matic ini.
            Sekilas kulihat Clista yang masuk ke dalam mobil milik Luis. Agak sedikit sebal melihat kenyataan kalau Clista tidak bisa aku boncengkan kali ini. ‘Semoga kamu baik-baik saja di sana, Clist,’ doaku dalam hati.
            Setelah semua persiapan selesai, dan mobil milik Juan maupun Luis sudah melaju terlebih dahulu, aku lalu mengemudikan motor di belakang kedua mobil itu. Hati-hati aku dalam mengemudikan motor matic ini, karena di sebelah motorku ada Daniel yang memboncengkan Rosie.
            Dalam hati aku mencibir mereka berdua. ‘Kalau aku jadi kamu, Dan, dulu sewaktu pembagian siapa yang akan membonceng, aku bakalan milih Clista buat aku boncengin. Bukannya menyetujui untuk memboncengkan Rosie. Huu, dasar kamu cowok php, Dan.
            Sekarang aku mengerti, kenapa raut muka Clista terlihat lesu saat akan berangkat tadi. Jawabannya cuma satu, si anak bengal ini, Daniel Pattinson. Hah, sudahlah. Lebih baik aku konsentrasi dalam mengemudikan motor ini saja. Tidak usah memikirkan Clista maupun Daniel.
***
            Akhirnya setelah hampir satu jam aku mengemudikan motor, sampai juga di Puebla WaterPark. Setelah memakirkan motor, aku lalu bergabung dengan yang lainnya yang sudah lebih dulu sampai, termasuk Clista. Kulihat, dia sudah terlihat ceria lagi. Semoga dia akan terus begitu.
            Iseng aku lalu mengedarkan pandanganku ke sekeliling. Tempat ini sedikit terasa asing untukku. Maklum saja, terakhir kali aku ke sini, adalah saat karyawisata SD, beberapa tahun silam. Pantas saja, kalau Puebla WaterPark sudah berubah. Meski tidak banyak.
            “Hei, ayo masuk.”
            Lagi-lagi suara cempreng Cecilia memasuki indera pendengaranku. Sepertinya ni anak emang suka sekali berteriak. Apa boleh buat. Setelah membayar tiket masuk, aku mengikuti langkah teman-temanku yang lain memasuki pintu masuk Puebla WaterPark.
            ‘Welcome to Puebla WaterPark,’ ucapku dalam hati sambil sedikit tersenyum.
***
            Grrr, apa-apaan si Stephanie ini? Orang aku gak mau foto bareng dengannya, kenapa juga dia harus maksa?
            “Xav, foto bareng yuk. Please, Xav.”
            Aku yang hendak menuju paddock, di mana di situ ada Clista, akhirnya harus jalan mondar-mandir, hanya karena si Stephanie ini. Memang dia gak malu apa? Harusnya dia tahu diri donk, kalo aku gak mau ya, jangan dipaksa lah. Apalagi sekarang kami berdua menjadi bahan tertawaan teman-teman. Clista juga ikut tertawa lagi. Menyebalkan!
            Beruntung, tak lama kulihat Daniel berjalan ke arah kami. Dalam sekejap, Stephanie langsung berlari menghampiri Daniel.
            “Daniel, kamu ganteng banget sih. Foto bareng ya, Dan?”
            Ya ampun, si Stephanie ini emang gak punya rasa malu apa? Aku akui, saat ini Daniel memang terlihat lebih keren. Selain karena rambutnya yang dibentuk spiky, tapi juga karena ketampanan wajahnya. Apalagi kalau dia memakai jaket kulit seperti itu. Tambah keren deh. Satu bocoran ya, jaket kulit yang dipakai oleh Daniel itu punya José loh, bukan punya dia sendiri, hehe.
            Akhirnya aku bisa lolos juga dari Stephanie. Dengan tenang, aku lalu melangkah ke paddock. Kulihat Clista yang duduk sendirian. Baru saja aku berniat untuk duduk di sebelahnya, ketika José duduk di sebelahnya. Aku akhirnya mengalah, duduk tidak jauh dari mereka berdua.
            Sambil terus menyeruput es teh di tanganku, aku tidak henti-hentinya mengamati Clista. Saat aku lebih jeli mengamatinya, ternyata arah pandangan Clista tertuju pada Daniel. Meski sebenarnya pandangannya terkesan kosong dan hampa. Aku mengerti sekarang. Ternyata memang benar kalau Clista menyukai Daniel. Hanya saja Daniel tidak mengetahuinya. Andai Daniel mengetahuinya, mungkin dia akan sangat bahagia karena cintanya bertaut.
            Tidak boleh! Clista dan Daniel tidak boleh pacaran. Boleh mereka pacaran, asalkan aku sudah tidak lagi menyukai Clista. Nanti yang ada malah aku selalu cemburu pada mereka. Argh, kenapa aku malah jadi mengigau seperti ini sih? Lagipula selama janur kuning belum melengkung, aku masih punya kesempatan untuk mendekati Clista bukan?
            Ya ya, masih ada banyak waktu dan kesempatan untukku. Semangat Xavi!
***
            Setelah hampir seharian di Puebla WaterPark, akhirnya kami pulang juga ke sekolah. Setelah ini, baru kami pulang ke rumah masing-masing. Kulirik jam digital di hp. Sudah jam empat sore. Tapi, mobil milik Luis belum kelihatan juga. Padahal seperempat jam yang lalu,Clista bilang kalau sudah sampai di San Luis Potosí. Dan seharusnya mereka sudah sampai di sini.
            Sebenarnya aku ingin langsung pulang tadi. Tapi, aku ingat kalau Clista ingin pulang bareng. Jadi, apa boleh buat, aku harus menunggunya sampai di sini. Lagipula ini kesempatan emasku untuk mengantarkan Clista sampai rumahnya.
            Tak berapa lama, dari utara kulihat sebuah mobil berwarna abu-abu memasuki gerbang Nuevo León High School. Benar sekali. Itu adalah mobilnya Luis. Mobil berwarna abu-abu itu lalu berhenti di depan gerbang selatan Nuevo León High School, dekat tempatku duduk sekarang.
            Kulihat Clista turun dari pintu sebelah kiri. Dia kelihatan lelah. Setelah turun dari mobil, Clista lalu membuka bagasi mobilnya dan mengambil tasnya dari dalam sana. Aku bersyukur dalam hati karena dia sama sekali tidak kehujanan. Karena sepanjang perjalanan pulang tadi, hujan mengguyur Puebla sampai León.
            Brrr.
            Aku merasakan tubuhku mulai menggigil. Salahkan aku yang tidak membawa mantel hari ini. Iya iya, aku tahu, aku terkadang memang ceroboh kok. Tapi, sekalipun membawa mantel, aku pasti akan menyuruh Rosie untuk memakainya. Ah iya, tadi pagi Rosie memang membonceng Daniel. Tapi, berhubung Daniel pulang lebih dulu, jadinya Rosie meminta untuk membonceng motorku. Dan si Teresa jadinya membonceng Miguel.
            Brrr.
            Lagi-lagi tubuhku menggigil. Argh, aku ingin cepat-cepat sampai rumah dan menghangatkan tubuh. Tapi, sepertinya niat itu harus tertunda, karena barusan Miguel mengajak untuk makan terlebih dahulu. Dan sepertinya Dewi Fortuna sedang berpihak kepadakau. Karena ternyata warung makan yang akan kami tuju, sudah habis makanannya. Beruntungnya aku.
            “Xav, pulang sekarang yuk,” ajak Clista sambil menyerahkan tas punggungku yang tergeletak di gazebo. Entah sejak kapan dia sudah berada di sampingku.
            Aku lalu mengambil tas punggungku dan meletakkannya di bawah kemudi motor. Nanti kalau aku pakai, bisa-bisa Clista tidak bisa duduk di boncengan. Setelah itu aku mulai menghidupkan mesin. Bergegas Clista duduk di belakangku. Anehnya, aku merasa sedikit berdebar karenanya.
            Setelah berpamitan pada teman-temanku yang belum pada pulang, aku lalu menambah kecepatan. Dan bodohnya aku, hal ini justru membuatku merasa semakin menggigil. Sehingga tanpa sadar, aku membuat motor menjadi sedikit oleng.
            PUK
            Kurasakan tangan Clista menepuk bahuku cukup keras. “Jangan rogeh kenapa Xav?” serunya.
            “Aku menggigil koh, Clist,” sahutku sekenanya.
            Hening. Dari kaca spion, terlihat kalau Clista sedang sibuk mengambil sesuatu dari dalam tas-nya. Sebuah minyak angin aromaterapi. Oh tidak! Aku kan tidak suka dengan itu.
            “Jangan pakein itu, Clist. Aku gak suka.” ucapku, begitu Clista terlihat hendak membuka tutup botol.
            “Kenapa memangnya, Dan? Ini kan bisa membuat kamu jadi hangat,” jawabnya sambil memasukkan kembali minyak angin aromaterapi ke dalam tasnya.
            “Pokoknya jangan lah.” Sahutku cepat. Bukan apa-apa sebenarnya. Hanya saja dari kecil, aku memang tidak suka segala hal yang berbau seperti itu. Dan sayangnya, setelah ini, keadaan malah menjadi hening. Apa sebaiknya aku jujur sekarang saja ya? Tapi, kalau nanti Clista marah padaku, bagaimana donk? Ah, sudahlah. Entah kapan lagi kesempatan bagus seperti ini akan muncul.
            “Clist?” tanyaku hati-hati. Aku takut kalau dia mengantuk kemudian tertidur. Bisa bahaya nanti.
            “Ada apa, Xav?” jawabnya pelan. Sepertinya dia memang sedikit mengantuk.
            “Aku pengin bilang sesuatu. Jadi, tolong kamu dengarkan baik-baik ya.”
            “Ehm, baiklah. Akan aku dengarkan.”
            Setelah mendapat kesanggupan dari Clista, aku lalu mengumpulkan segenap keberanianku.
            “Clist, kamu sadar gak kalau selama ini, ada seseorang yang selalu memperhatikan kamu?”
            “Hmm, sepertinya tidak. Memangnya kenapa, Dan?” tanyanya. Sepertinya dia penasaran.
            “Jujur saja ya, Clist. Sebenarnya selama ini aku selalu memperhatikanmu loh. Yah, memang aku hanya memperhatikanmu saat di sekolah saja. Dan kamu pasti tahu apa maksudku kan?”
            Kulihat Clista menggelengkan kepalanya. “Tidak. Memangnya kamu mau bilang apa sih, Xav? Cepetan donk. Penasaran tahu.”
            “Hehe. Biarin aja kamu penasaran, Clist. Mungkin memang sebaiknya aku tidak usah bilang saja apa ya?” gurauku.
            Kulirik Clista dari spion motor. Benar saja, ternyata dia memasang tampang cemberut. Hihi, baiklah, apa boleh buat. Lebih baik aku jujur saja padanya. Setelah menenangkan diri sejenak dan menyusun kata-kata, akhirnya aku kembali membuka suara.
            “Clist, aku suka sama kamu. Ah, mungkin lebih dari sekedar suka. Aku mencintaimu, Clist.” ucapku dalam satu tarikan nafas.
            Hening.
            “Eh? Kau bilang apa tadi, Xav? Aku gak salah dengar kan?” tanyanya.
            Aku menggelengkan kepalaku sebagai jawaban. Kulihat raut muka Clista setengah tidak percaya dengan kata-kataku barusan. Clista dengan segera memalingkan pandangannya dariku. Raut mukanya terlihat sendu. Mungkinkah kata-kataku telah melukai hatinya?
            “Ah, maaf, Clist. Mungkin ini terlalu cepat. Tapi, aku pikir ini merupakan saat yang tepat. Jadi―”
            “Tidak apa-apa kok, Xav. Aku mengerti. Sangat mengerti. Tapi, aku merasa kalau kau salah orang, Xav. Aku tidak pantas mendapatkan ucapan seperti itu darimu. Hanya Stephanie yang pantas mendapatkan ucapan itu darimu,” potong Clista cepat, ketika aku hendak meminta maaf atas pengakuanku yang tiba-tiba.
            “Clist―”
            “Hiks, maafkan aku, Xav. Aku tidak bisa membalas perasaanmu. Karena aku―”
            CKIIT
            Aku lalu menghentikan motorku dengan tiba-tiba. Cukup. Aku tidak ingin melihat Clista yang seperti ini. Segera aku buka helm yang menutupi kepalaku. Kutolehkan kepalaku ke belakang dan kutatap Clista lekat-lekat.
            “Clist, dengarkan aku. Aku harus berapa kali bilang sama kamu, aku itu sama sekali gak ada rasa dengan Stephanie. Karena hanya kamu yang aku suka. Tidak ada yang lain.”
            Aku lalu turun dari motorku dan berdiri di samping motor. “Aku tahu kok alasan kamu tidak membalas perasaanku. Itu semua karena ada orang yang kamu sukai bukan? Dan orang itu adalah orang yang sama-sama kita kenal. Benar kan?”
            Kulirik Clista dari ekor mataku. Matanya terlihat sembap. Aku yakin, meski hanya satu tetes, tapi tetap saja telah menangis. Aku lalu menghela nafas panjang, sebelum kembali memakai helm-ku dan naik ke atas motor.
            GREP
            “Tapi, kita tetap berteman kan, Xav?”
            Aku lalu tersenyum samar mendengar ucapan Clista barusan. “Tentu saja, Clist. Kita tetap berteman, sampai kapanpun.”
            “Terima kasih, Xav. Ah iya, boleh kan kalau aku menggunakan punggungmu sebagai sandaran?” pintanya.
            “Iya. Silakan.”
            “Hm, terima kasih.”
            Kurasakan punggungku terasa berat. Mungkin Clista memang sudah tertidur di punggungku. Hati-hati, aku mulai menghidupkan mesin motor dan melajukannya kembali.
            Aku memang tidak bisa menggantikan Daniel di hatimu, Clist. Tetapi, setidaknya jangan pernah menyuruhku untuk menyukai Stephanie. Kumohon, mengertilah, Clist. Karena aku berharap hanya dirimulah yang ‘kan terus berada di hatiku.
~ F-I-N ~